Sabtu, 07 Januari 2017

“Pentingnya Ilmu Mantiq Dan Logika Dalam Kehidupan Sehari – Hari”



Artikel
Pentingnya Ilmu Mantiq Dan Logika
Dalam Kehidupan Sehari – Hari
Oleh
Redo Kurnia
III B Ekonomi Syariah
Sekolah Tinggi Agama Islam
                                    Negeri (STAIN) Bengkalis
                                          
Pentingnya Ilmu Mantiq Dan Logika Dalam Kehidupan Sehari - Hari
A.    Pengertian Mantiq dan Manfaat Mempelajari Mantiq
Mantiq mempunyai banyak sekali manfaat dalam kehidupan sehari-hari kita. Seperti bidang sains, filsafat, politik sosial bahkan sampai bidang agama. karena dengan belajar mantiq, kita bisa terhindar dari berbagai kesalahan berpikir yang sering kita temui dalam menanggapi permasalahan-permasalahan yang sering menghinggapi kita.
Ilmu mantiq diterjemahkan dari teks Yunani. Pencetus serta penyusun ilmu ini adalah Aristoteles dari Yunani. Dia juga sempat membuat konsep aturan berpikir yang terdiri atas empat hal, yaitu prinsip identitas, non kontradiksi, kausalitas dan hukum keselarasan. Sebelum kita membahas jauh tentang mantiq, pertama-pertama kita harus memberikan sebuah definisi kemudian kita terangkan tujuan serta keuntungannya sehingga nilai sesungguhnya menjadi jelas bagi kita.
Mantiq adalah “Aturan berpikir benar”. Artinya, hukum serta aturan “mantiqi” (logis), laksana perangkat yang dengannya kita mengukur argumentasi mengenai topik-topik ilmiah maupun filosofis, sehingga kesimpulan kita tidak sampai salah. Mantiq bagi seorang ilmuwan atau filosofseperti bandulan pengukur tegak lurus bagi tukang batu, yang dengannya ia dapat mengukur apakah tembok yang ia bangun ini sudah tegak dan lurus ataukah belum. Oleh karenanya, mantiq dapat didefinisikan sebagai alat berupa undang-undang atau aturan, mematuhi serta menjalankannya akan menjaga pikiran dari kesalahan dalam pemikiran.
Dari definisi diatas, maka jelaslah bahwa keuntungan dari belajar mantiq adalah menjaga kita dari kesalahan berpikir; tetapi belum jelas bagaimana mantiq menjaga terjadinya kesalahan berpikir. Sebaiknya terlebih dahulu kita berikan definisi bagi Fikr (penalaran). Karena sebelum mendefinisikan Fikr menurut mantiq, maka mantiq sebagai alat pengukuratau dengan kata lain “falsumeter” bagi           Fikr     tidak    akan     jelas.
Fikr adalah gerak akal, proses berpikir dari yang tidak diketahui (majhul) menjadi hal yang diketahui (maklum). Saat pikiran ingin menyusun maklumaat (bentuk jamak dari maklum), maka pikiran tersebut harus memberinya bentuk (form) dan tertib tertentu. Artinya maklumaat hanya dalam bentuk-bentuk tertentu saja yang dapat menghasilkan dan memberi kesimpulan.
Mantiiq atau logika, seperti yang dipelajari dalam ilmu-ilmu Islam, itu benar-benar berfungsi tentang dua hal:
a.       Cara membuat definisi yang tepat dari sebuah konsep. 
b.      Cara untuk membangun sebuah bukti hujah atau argumentasi, dan utk mendeteksi kelemahan dalam argumen yang rusak.
Tidak Ada yg misterius dalam ilmu ini. Dengan demikian, Tidak dapat disangkal bahwa logika dibutuhkan dalam semua ilmu, terutama ilmu Kalaam. Dalam ilmu Kalaam bisa membuat dan mengetahui bukti terkuat , sehingga pemahaman yang baik tentang prinsip-prinsip logis diperlukan untuk menilai kekuatan bukti/hujah. Secara umum, pendidikan modern yang solid benar-benar mengajarkan tentang kegunaan logika, dan pendidikan terutama yg mengandalkan hafalan, diperlukan logika untuk mengajar siswa bagaimana cara berpikir.
Pada saat ini kebanyakan orang berpendidikan akan menyadari akan pentingnya bgmn membuat definisi yang solid, dan bagaimana mendeteksi kelemahan dalam argumen, terutama jika seseorang berhadapan dgn ahli retorika logika hususnya kaum filsafat kafir. Jika Anda tahu bagaimana cara sebuah pencarian yang baik di Google, Anda akan tahu bagaimana anda menggunakan logika utk hal kecil seperti itu. Dan untuk memahami ( cara penilaian istimbat Islam dari Al-Qur'an dan ĥadiitħ), maka salah satu kebutuhannya adalah mengkaji Uşuulu-l-Fiqh dan juga mebedakan rantai sanad bgmn sanad kuat dan doif,knpa harus sanad bersambung dan kuat??? itu utk menjaga otentikasi riwayat, nah darimana kita tau hal itu perlu??? dari logika, itu adalah bagian dari ilmu kalam yang di kenal dengan istilah Logika Islam, sehingga sangat penting untuk membaca setidaknya satu kitab dalam ilmu ini "Logika Islam" Maksudku kitab tentang logika yang telah dimurnikan dari teologi Yunani dan yang berhubungan dengannya.
Ilmu Kalam tidak pernah ditolak secara mutlak oleh para ulama’ muktabar khususnya jika melibatkan penggunaan di sisi para ulama’ Islam pada hakikatnya ilmu kalam sudah ada pada zaman Salaf di mana para ulama’ seperti Imam Abu Hanifah r.a., Imam As-Syafi’e r.a.,dan sebagainya terlibat menolak golongan yang bid’ah            dalam  aqidah secara  aqli      (logikal). sebagaimana disimpulkan oleh Imam Al-Baihaqi r.a. ketika berkata:
“Bagaimana (ilmu) Kalam versi Ahlus-Sunnah wal Jamaah suatu yag tercela di sisi Imam As-Syafi’e sedangkan beliau sendiri berdebat dengan orang yang berdebat dengannya (dengan kaedah tersebut)…” [Manaqib As-Syafi’e: 1/455]
Maka,di antara mereka yang tidak suka dengan perkembangan Ilmu Kalam versi Sunnah ini adalah golongan Mujassimah yang mana sebagian mereka berlindung di balik mazhab Hanbali tetapi mengamalkan femahaman Tajsim. Mereka sering mengulang-ulang dan menuqil celaan ulama’ besar salaf terhadap Ilmu Kalam padahal sasaran celaan ulama’ salaf terdahulu adalah terhadap Ilmu Kalam versi Mu’tazilah, bukan kepada Ilmu Kalam versi Sunni.
Maka, sebab itulah sebagian ulama’ Hanabilah yang faham dengan hakikat ini berbeda dengan para Ghullat Hanabilah (pelampau hanabilah yang mujassimah) dalam      mengkritik       Ilmu     Kalam.Antaranya adalah perkataan Imam Al-Buhuti Al-Hanbali dalam kitabnya ‘Hasyiyah Al-Buhuti ‘Ala Al-‘Iqna’ [1/459]:
“Adapun perkataan [Imam Al-Hajawi]: ((Maka yang haram seperti ilmu kalam)), Maka, Imam Ibn Hamdan berkata dalam Adab Al-Mufti wa Al-Mustafti: Adapun ilmu Kalam yang tercela adalah ilmu Usuluddin jika menggunakan akal semata-tanpa bergantung kepada naqli (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dan juga bertentangan dengan naqli yang jelas dan sahih. Jika ilmu kalam itu berkaitan dengan naqli semata- atau penggabungan antara naqli dengan aqli yang sesuai dengan naqli, maka ini adalah asas agama dan jalan ahli sunnah wal jamaah.”
Maka, kesepakatan majoriti ulama’ Islam dalam berpegang kepada mazhab Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyyah menjadikan terbentuknya sebuah entiti pemikiran Islam dalam bidang aqidah yang kuat yang dikenali sebaga Ahlus Sunnah            wal      Jamaah.
Ini menunjukkan bahawasanya Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyyah mencapai tahap At-Talaqqi bi Al-Qabul dalam kalangan ulama’ Islam sebagaimana empat mazhab dalam fiqh.
            Logika adalah istilah yang dibentuk dari kata logikos yang berasal dari kata benda logos. Kata logos, berarti sesuatu yang diutarakan, suatu pertimbangan akal (pikiran), kata, percakapan, atau ungkapan lewat bahasa. Kata logikos, berarti mengenal kata, mengenai percakapan atau yang berkenaan dengan ungkapan lewat bahasa. Dengan demikian, dapatlah dikatan bahwa logika adalah suatu pertimbangan akal atau pikiran yang diutrakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.adalah ilmu pengetahuan dan keterampilan berpikir lurus.
Menurut para Ahli Logika adalah :
a.       Aristoteles : logika adalah ajaran tentang berpikir yang secara ilmiah membicarakan bentuk pikiran itu sendiri dan hukum-hukum yang menguasai pikiran.
b.      William Alston : logika adalah studi tentang penyimpulan, secara lebih ceramat usaha untuk mennetapkan ukuran-ukuran guna memisahkan penyimpulan yang sah dan tidak sah.

         1.         Tempat Logika dalam Peta Ilmu Pengetahuan
Aristoteles (384-322 SM) membagi ilmu pengetahuan ke dalam tiga kelas atau tiga kelompok sebagai berikut
1)      Filsafat Spekulatif atau Filsafat Teorites, yang bersifat objektif dan bertujuan pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri. Kelompok ini terdiri dari atas fisika, metafisila, biopsikologi, dan teologia.
2)       Filsafat Praktika, yang memberi pedoman bagi tingkah laku manusia.
3)      Filsafat produktif yang membimbing manusia menjadi produktif lewat keterampilan khusus.
4)       Logika Tradisional dan Logika Modern
Logika modern atau logika simbolik, Karena menggunakan tanda-tanda atau symbol-simbol matematik, hanya sanggup membahas hubungan antara tanda-tanda itu, padahal realitas tak mungkin dapat ditangkap sepenuhnya dan setepat-tepatnya oleh symbol-simbol matematik.
Logika tradisoinal membahas dan mempersoalkan definisi, konsep, dan term menurut struktur, susunan dan nuansanya, serta seluk-beluk penalaran untuk memperoleh kebenaran yang lebih susuai dengan realitas.
         2.         Manfaat Mempelajari Logika dalam kehidupan sehari-hari :
a.       Melatih berfikir secara rasional, kritis, lurus, tertib, metodis dan koheren.
b.      Mampu berfikir abstrak, cermat dan objektif.
c.       Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berfikir tajam dan mandiri.
d.      Meningkatkan kemampuan analisis terhadap suatu kejadian.
e.       Meningkatkan rasa cinta akan kebenaran.
f.       Menghindarkan diri dari kekeliruan karena informasi yang tidak benar.
g.      Meningkatkan Citra diri.

         3.         Tokoh-Tokoh Logika
1.      Aristoteles (384-322 SM): mempelopori perkembangan logika sejak awal.
2.      Boethlus (489-524 M): menterjemahkan buku logika dari bahasa yunani ke bahasa latin.
3.      Al-Farabi (873-950 M): menterjemahkan karya aristoteles secara menyeluruh menjadi 4 judul buku : Kutubul manthiqil-tsamaniat: Muqaddamat Isaguji Allati Wadha’aha Purpurius; Risalat-filmanthiqi, al-qaulu fi saraaitil-yaqini (merumuskan syarat-syarat kombinasi dari Aristoteles) dan Risalat filQias, fushulun Yatalju ilaiha fi shina’atil-Manthiki (membahas bentuk-bentuk silogisme dan merumuskan persyaratan berdasarkan buku Aristoteles).
4.      Joan stuart Mill : mempertemukan system induksi dengan system deduksi
5.      George Boole dan Augustus de Morgan : menggunakan symbol-simbol dalam analisis matematis secara luas dan de Morgan mengembangkan tentang relasi dan negasi
6.      John Venn : menyempurnakan analisis logis dari Boole dengan merancang diagram lingkaran yang kemudian dikenal dengan diagram Venn untuk menggambarakan hubungan-hubungan dan memeriksa sahnya penyimpulan dari silogisme



         4.         Pembagian Logika
Menurut The Liang Ghie (1980) logika dapat dikatagorikan menjadi lima macam yaitu :
Logika makna luas dan logika makna sempit. Logika dalam makna sempit semakna dengan logika dedutif atau logika formal, sedangkan dalam arti luas pemakaiannya mencakup kesimpulan dari berbagai bukti dan bagaimana system-sistem penjelasan di susun dalam ilmu alam serta meliputi pula pembahasan logika itu sendiri.
Dalam arti luas logika juga dapat dipakai untuk menyebut tiga cabang filsafat sekaligus :
a.       asas paling umum mengenai pembentukan pengertian inferensi, dan tatanan (logika formal dan simbbolis)
b.      sifat dasar dan syarat pengetahuan terutama hubungan antara budi dengan objek yang diketahui, ukuran kebenaran, dan kaidah-kaidah pembuktian (epistomologi)
c.       metode-metode untuk mendapatkan pengetahuan dalam penyelidikan ilmiah (metodologi)

1.      Logika deduktif dan induktif.
Logi           ka deduktif adalah logika yang mempelajari asas-asas penalaran yang menurunkan kesimpulan sebagai keharusan dari pangkal pikirnya sehingga bersifat betul menurut bentuknya saja. Logika  induktif adalah bentuk penalaran atau penyimpulan yang berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah kecil hal atau anggota suatu himpunan untuk tiba pada suatu kesimpulan yang diharapkan berlaku umum untuk semua hal, atau seluruh anggota himpunan itu, tetapi sifat kesimpulannya hanya boleh jadi saja.
2.      Logika formal dan Logika Material
logika formal mempelajari asas atau aturan atau hokum-hukum berpikir yang harus di taati, agar orang dapat berpikir dengan benar dan mencapai kebenaran. Logika formal sering juga disebut dengan logika minor. Logika material mempelajari langsung pekerjaan akal, serta menilai hasil-hasil logika formal dan mengujinya dengan kenyataan praktis yang sesungguhnya, disebut juga sebagai logika mayor. Saat ini logika formal dikenal sebagai ilmu yang mengandung kumpulan kaidah-kaidah cara berpikir untuk mencapai kebenaran.
3.      Logika Murni dan Logika Terapan
logika murni (pure logic) adalah ilmu tentang efek terhadap anti terhapad pernyataan dan sebagai akibatnya terhadap kesahan dari pembuktian dari sebagian dan segi dari pernyataan dan pembuktian, kecuali arti-arti tertentu dari istilah yang termuat didalamnya (The Liang Ghie, 1980). Logika terapan adalah pengetahuan logika yang diterapkan dalam cabang ilmu, bidang filsafat dan juga dalam pembicaraan yang mempergunakan bahasa sehari-hari.


4.      Logika Filsafat Dan Logika Matematik
logika filsafat dapat digolongkan sebagai suatu ragam  atau bagian logika yang masih berhubungan erat dengan pembahasan dalam bidang filsafat. Logika matematik merupakan ragama logika yang menelaah penalaran yang benar dengan menggunakan metode mathematic serta bentuk lambing yang khusus dan cermat untuk mengghindarkan makna ganda atau kekeburan yang terdapat dalam bahasa biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar