Artikel
“Pentingnya Ilmu Mantiq Dan Logika
Dalam Kehidupan Sehari – Hari”
Oleh
Redo Kurnia
III B Ekonomi Syariah
Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri (STAIN) Bengkalis
Pentingnya Ilmu Mantiq Dan Logika Dalam Kehidupan Sehari - Hari
A. Pengertian Mantiq dan Manfaat Mempelajari Mantiq
Mantiq
mempunyai banyak sekali manfaat dalam kehidupan sehari-hari kita. Seperti
bidang sains, filsafat, politik sosial bahkan sampai bidang agama. karena
dengan belajar mantiq, kita bisa terhindar dari berbagai kesalahan berpikir
yang sering kita temui dalam menanggapi permasalahan-permasalahan yang sering
menghinggapi kita.
Ilmu mantiq
diterjemahkan dari teks Yunani. Pencetus serta penyusun ilmu ini adalah
Aristoteles dari Yunani. Dia juga sempat membuat konsep aturan berpikir yang
terdiri atas empat hal, yaitu prinsip identitas, non kontradiksi, kausalitas
dan hukum keselarasan. Sebelum kita membahas jauh tentang mantiq,
pertama-pertama kita harus memberikan sebuah definisi kemudian kita terangkan
tujuan serta keuntungannya sehingga nilai sesungguhnya menjadi jelas bagi kita.
Mantiq adalah “Aturan berpikir benar”. Artinya, hukum serta aturan “mantiqi” (logis), laksana perangkat yang dengannya kita mengukur argumentasi mengenai topik-topik ilmiah maupun filosofis, sehingga kesimpulan kita tidak sampai salah. Mantiq bagi seorang ilmuwan atau filosofseperti bandulan pengukur tegak lurus bagi tukang batu, yang dengannya ia dapat mengukur apakah tembok yang ia bangun ini sudah tegak dan lurus ataukah belum. Oleh karenanya, mantiq dapat didefinisikan sebagai alat berupa undang-undang atau aturan, mematuhi serta menjalankannya akan menjaga pikiran dari kesalahan dalam pemikiran.
Mantiq adalah “Aturan berpikir benar”. Artinya, hukum serta aturan “mantiqi” (logis), laksana perangkat yang dengannya kita mengukur argumentasi mengenai topik-topik ilmiah maupun filosofis, sehingga kesimpulan kita tidak sampai salah. Mantiq bagi seorang ilmuwan atau filosofseperti bandulan pengukur tegak lurus bagi tukang batu, yang dengannya ia dapat mengukur apakah tembok yang ia bangun ini sudah tegak dan lurus ataukah belum. Oleh karenanya, mantiq dapat didefinisikan sebagai alat berupa undang-undang atau aturan, mematuhi serta menjalankannya akan menjaga pikiran dari kesalahan dalam pemikiran.
Dari definisi
diatas, maka jelaslah bahwa keuntungan dari belajar mantiq adalah menjaga kita
dari kesalahan berpikir; tetapi belum jelas bagaimana mantiq menjaga terjadinya
kesalahan berpikir. Sebaiknya terlebih dahulu kita berikan definisi bagi Fikr
(penalaran). Karena sebelum mendefinisikan Fikr menurut mantiq, maka
mantiq sebagai alat pengukuratau dengan kata lain “falsumeter” bagi Fikr tidak akan jelas.
Fikr adalah gerak akal, proses berpikir dari yang tidak diketahui
(majhul) menjadi hal yang diketahui (maklum). Saat pikiran ingin menyusun
maklumaat (bentuk jamak dari maklum), maka pikiran tersebut harus memberinya
bentuk (form) dan tertib tertentu. Artinya maklumaat hanya dalam bentuk-bentuk
tertentu saja yang dapat menghasilkan dan memberi kesimpulan.
Mantiiq atau
logika, seperti yang dipelajari dalam ilmu-ilmu Islam, itu benar-benar
berfungsi tentang dua hal:
a.
Cara
membuat definisi yang tepat dari sebuah konsep.
b.
Cara
untuk membangun sebuah bukti hujah atau argumentasi, dan utk mendeteksi
kelemahan dalam argumen yang rusak.
Tidak Ada yg
misterius dalam ilmu ini. Dengan demikian, Tidak dapat disangkal bahwa logika
dibutuhkan dalam semua ilmu, terutama ilmu Kalaam. Dalam ilmu Kalaam bisa
membuat dan mengetahui bukti terkuat , sehingga pemahaman yang baik tentang
prinsip-prinsip logis diperlukan untuk menilai kekuatan
bukti/hujah. Secara umum, pendidikan modern yang solid benar-benar
mengajarkan tentang kegunaan logika, dan pendidikan terutama yg mengandalkan
hafalan, diperlukan logika untuk mengajar siswa bagaimana cara berpikir.
Pada saat ini
kebanyakan orang berpendidikan akan menyadari akan pentingnya bgmn membuat
definisi yang solid, dan bagaimana mendeteksi kelemahan dalam argumen, terutama
jika seseorang berhadapan dgn ahli retorika logika hususnya kaum filsafat
kafir. Jika Anda tahu bagaimana cara sebuah pencarian yang baik di Google, Anda
akan tahu bagaimana anda menggunakan logika utk hal kecil seperti itu. Dan
untuk memahami ( cara penilaian istimbat Islam dari Al-Qur'an dan ĥadiitħ),
maka salah satu kebutuhannya adalah mengkaji Uşuulu-l-Fiqh dan juga mebedakan
rantai sanad bgmn sanad kuat dan doif,knpa harus sanad bersambung dan kuat???
itu utk menjaga otentikasi riwayat, nah darimana kita tau hal itu perlu??? dari
logika, itu adalah bagian dari ilmu kalam yang di kenal dengan istilah Logika Islam,
sehingga sangat penting untuk membaca setidaknya satu kitab dalam ilmu ini
"Logika Islam" Maksudku kitab tentang logika yang telah dimurnikan
dari teologi Yunani dan yang berhubungan dengannya.
Ilmu Kalam
tidak pernah ditolak secara mutlak oleh para ulama’ muktabar khususnya jika
melibatkan penggunaan di sisi para ulama’ Islam pada hakikatnya ilmu kalam
sudah ada pada zaman Salaf di mana para ulama’ seperti Imam Abu Hanifah r.a.,
Imam As-Syafi’e r.a.,dan sebagainya terlibat menolak golongan yang bid’ah dalam aqidah secara aqli (logikal). sebagaimana
disimpulkan oleh Imam Al-Baihaqi r.a. ketika berkata:
“Bagaimana (ilmu) Kalam versi Ahlus-Sunnah wal Jamaah suatu yag tercela di sisi Imam As-Syafi’e sedangkan beliau sendiri berdebat dengan orang yang berdebat dengannya (dengan kaedah tersebut)…” [Manaqib As-Syafi’e: 1/455]
“Bagaimana (ilmu) Kalam versi Ahlus-Sunnah wal Jamaah suatu yag tercela di sisi Imam As-Syafi’e sedangkan beliau sendiri berdebat dengan orang yang berdebat dengannya (dengan kaedah tersebut)…” [Manaqib As-Syafi’e: 1/455]
Maka,di antara
mereka yang tidak suka dengan perkembangan Ilmu Kalam versi Sunnah ini adalah
golongan Mujassimah yang mana sebagian mereka berlindung di balik mazhab
Hanbali tetapi mengamalkan femahaman Tajsim. Mereka sering mengulang-ulang dan
menuqil celaan ulama’ besar salaf terhadap Ilmu Kalam padahal sasaran celaan
ulama’ salaf terdahulu adalah terhadap Ilmu Kalam versi Mu’tazilah, bukan
kepada Ilmu Kalam versi Sunni.
Maka, sebab
itulah sebagian ulama’ Hanabilah yang faham dengan hakikat ini berbeda dengan
para Ghullat Hanabilah (pelampau hanabilah yang mujassimah) dalam mengkritik Ilmu Kalam.Antaranya adalah perkataan Imam
Al-Buhuti Al-Hanbali dalam kitabnya ‘Hasyiyah Al-Buhuti ‘Ala Al-‘Iqna’ [1/459]:
“Adapun perkataan [Imam Al-Hajawi]: ((Maka yang haram seperti ilmu kalam)), Maka, Imam Ibn Hamdan berkata dalam Adab Al-Mufti wa Al-Mustafti: Adapun ilmu Kalam yang tercela adalah ilmu Usuluddin jika menggunakan akal semata-tanpa bergantung kepada naqli (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dan juga bertentangan dengan naqli yang jelas dan sahih. Jika ilmu kalam itu berkaitan dengan naqli semata- atau penggabungan antara naqli dengan aqli yang sesuai dengan naqli, maka ini adalah asas agama dan jalan ahli sunnah wal jamaah.”
“Adapun perkataan [Imam Al-Hajawi]: ((Maka yang haram seperti ilmu kalam)), Maka, Imam Ibn Hamdan berkata dalam Adab Al-Mufti wa Al-Mustafti: Adapun ilmu Kalam yang tercela adalah ilmu Usuluddin jika menggunakan akal semata-tanpa bergantung kepada naqli (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dan juga bertentangan dengan naqli yang jelas dan sahih. Jika ilmu kalam itu berkaitan dengan naqli semata- atau penggabungan antara naqli dengan aqli yang sesuai dengan naqli, maka ini adalah asas agama dan jalan ahli sunnah wal jamaah.”
Maka,
kesepakatan majoriti ulama’ Islam dalam berpegang kepada mazhab Al-Asya’irah
dan Al-Maturidiyyah menjadikan terbentuknya sebuah entiti pemikiran Islam dalam
bidang aqidah yang kuat yang dikenali sebaga Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Ini menunjukkan
bahawasanya Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyyah mencapai tahap At-Talaqqi bi
Al-Qabul dalam kalangan ulama’ Islam sebagaimana empat mazhab dalam fiqh.
Logika
adalah istilah yang dibentuk dari kata logikos yang berasal dari kata
benda logos. Kata logos, berarti sesuatu yang diutarakan, suatu pertimbangan
akal (pikiran), kata, percakapan, atau ungkapan lewat bahasa. Kata logikos,
berarti mengenal kata, mengenai percakapan atau yang berkenaan dengan ungkapan lewat
bahasa. Dengan demikian, dapatlah dikatan bahwa logika adalah suatu
pertimbangan akal atau pikiran yang diutrakan lewat kata dan dinyatakan dalam
bahasa.adalah ilmu pengetahuan dan keterampilan berpikir lurus.
Menurut para Ahli Logika adalah :
a.
Aristoteles
: logika adalah ajaran tentang berpikir yang secara ilmiah membicarakan
bentuk pikiran itu sendiri dan hukum-hukum yang menguasai pikiran.
b.
William
Alston : logika adalah studi tentang penyimpulan, secara lebih ceramat
usaha untuk mennetapkan ukuran-ukuran guna memisahkan penyimpulan yang sah dan
tidak sah.
1.
Tempat Logika dalam Peta Ilmu Pengetahuan
Aristoteles
(384-322 SM) membagi ilmu pengetahuan ke dalam tiga kelas atau tiga kelompok
sebagai berikut
1)
Filsafat
Spekulatif atau Filsafat Teorites, yang bersifat objektif dan bertujuan
pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri. Kelompok ini terdiri dari atas
fisika, metafisila, biopsikologi, dan teologia.
2)
Filsafat Praktika, yang memberi pedoman bagi tingkah laku manusia.
3)
Filsafat produktif yang membimbing manusia
menjadi produktif lewat keterampilan khusus.
4)
Logika Tradisional dan
Logika Modern
Logika modern atau logika simbolik, Karena menggunakan tanda-tanda
atau symbol-simbol matematik, hanya sanggup membahas hubungan antara
tanda-tanda itu, padahal realitas tak mungkin dapat ditangkap sepenuhnya dan
setepat-tepatnya oleh symbol-simbol matematik.
Logika tradisoinal membahas dan mempersoalkan definisi,
konsep, dan term menurut struktur, susunan dan nuansanya, serta seluk-beluk
penalaran untuk memperoleh kebenaran yang lebih susuai dengan realitas.
2.
Manfaat Mempelajari Logika dalam kehidupan
sehari-hari :
a.
Melatih berfikir secara rasional, kritis, lurus, tertib,
metodis dan koheren.
b.
Mampu berfikir abstrak, cermat dan objektif.
c.
Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berfikir tajam
dan mandiri.
d.
Meningkatkan kemampuan analisis terhadap suatu kejadian.
e.
Meningkatkan rasa cinta akan kebenaran.
f.
Menghindarkan diri dari kekeliruan karena informasi yang
tidak benar.
g.
Meningkatkan Citra diri.
3.
Tokoh-Tokoh Logika
1.
Aristoteles
(384-322 SM): mempelopori perkembangan logika sejak awal.
2.
Boethlus
(489-524 M): menterjemahkan buku logika dari bahasa yunani ke bahasa latin.
3.
Al-Farabi
(873-950 M): menterjemahkan karya aristoteles secara menyeluruh menjadi 4 judul
buku : Kutubul manthiqil-tsamaniat: Muqaddamat Isaguji Allati Wadha’aha
Purpurius; Risalat-filmanthiqi, al-qaulu fi saraaitil-yaqini (merumuskan
syarat-syarat kombinasi dari Aristoteles) dan Risalat filQias, fushulun
Yatalju ilaiha fi shina’atil-Manthiki (membahas bentuk-bentuk silogisme dan
merumuskan persyaratan berdasarkan buku Aristoteles).
4.
Joan
stuart Mill : mempertemukan system induksi dengan system deduksi
5.
George
Boole dan Augustus de Morgan : menggunakan symbol-simbol dalam analisis
matematis secara luas dan de Morgan mengembangkan tentang relasi dan negasi
6.
John
Venn : menyempurnakan analisis logis dari Boole dengan merancang diagram
lingkaran yang kemudian dikenal dengan diagram Venn untuk menggambarakan hubungan-hubungan
dan memeriksa sahnya penyimpulan dari silogisme
4.
Pembagian Logika
Menurut The
Liang Ghie (1980) logika dapat dikatagorikan menjadi lima macam yaitu :
Logika makna
luas dan logika makna sempit. Logika dalam makna sempit semakna dengan logika
dedutif atau logika formal, sedangkan dalam arti luas pemakaiannya mencakup
kesimpulan dari berbagai bukti dan bagaimana system-sistem penjelasan di susun
dalam ilmu alam serta meliputi pula pembahasan logika itu sendiri.
Dalam arti luas
logika juga dapat dipakai untuk menyebut tiga cabang filsafat sekaligus :
a.
asas
paling umum mengenai pembentukan pengertian inferensi, dan tatanan (logika
formal dan simbbolis)
b.
sifat
dasar dan syarat pengetahuan terutama hubungan antara budi dengan objek yang
diketahui, ukuran kebenaran, dan kaidah-kaidah pembuktian (epistomologi)
c.
metode-metode
untuk mendapatkan pengetahuan dalam penyelidikan ilmiah (metodologi)
1.
Logika
deduktif dan induktif.
Logi ka deduktif adalah logika yang
mempelajari asas-asas penalaran yang menurunkan kesimpulan sebagai keharusan
dari pangkal pikirnya sehingga bersifat betul menurut bentuknya saja.
Logika induktif adalah bentuk penalaran atau penyimpulan yang berdasarkan
pengamatan terhadap sejumlah kecil hal atau anggota suatu himpunan untuk tiba
pada suatu kesimpulan yang diharapkan berlaku umum untuk semua hal, atau
seluruh anggota himpunan itu, tetapi sifat kesimpulannya hanya boleh jadi saja.
2.
Logika
formal dan Logika Material
logika formal
mempelajari asas atau aturan atau hokum-hukum berpikir yang harus di taati,
agar orang dapat berpikir dengan benar dan mencapai kebenaran. Logika formal
sering juga disebut dengan logika minor. Logika material mempelajari langsung
pekerjaan akal, serta menilai hasil-hasil logika formal dan mengujinya dengan
kenyataan praktis yang sesungguhnya, disebut juga sebagai logika mayor. Saat
ini logika formal dikenal sebagai ilmu yang mengandung kumpulan kaidah-kaidah
cara berpikir untuk mencapai kebenaran.
3.
Logika
Murni dan Logika Terapan
logika murni
(pure logic) adalah ilmu tentang efek terhadap anti terhapad pernyataan dan
sebagai akibatnya terhadap kesahan dari pembuktian dari sebagian dan segi dari
pernyataan dan pembuktian, kecuali arti-arti tertentu dari istilah yang termuat
didalamnya (The Liang Ghie, 1980). Logika terapan adalah pengetahuan logika
yang diterapkan dalam cabang ilmu, bidang filsafat dan juga dalam pembicaraan
yang mempergunakan bahasa sehari-hari.
4.
Logika
Filsafat Dan Logika Matematik
logika filsafat
dapat digolongkan sebagai suatu ragam atau bagian logika yang masih
berhubungan erat dengan pembahasan dalam bidang filsafat. Logika matematik
merupakan ragama logika yang menelaah penalaran yang benar dengan menggunakan
metode mathematic serta bentuk lambing yang khusus dan cermat untuk mengghindarkan
makna ganda atau kekeburan yang terdapat dalam bahasa biasa.